Pada 11 Desember 2025, dunia akan memfokuskan perhatian pada keajaiban sekaligus kerentanan gunung. Fokus utama tahun ini bukan hanya pada keindahannya, tetapi pada elemen vital yang mulai lenyap: gletser.
[ruangkosong.net] Setiap tahun pada tanggal 11 Desember, dunia memperingati Hari Gunung Sedunia (International Mountain Day). Peringatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran global tentang peran penting pegunungan dalam mendukung kehidupan di Bumi dan mendorong upaya pelestariannya . Pada tahun 2025, peringatan ini mengusung urgensi yang sangat spesifik, berfokus pada ancaman nyata terhadap salah satu komponen terpenting ekosistem pegunungan: gletser.
Artikel ini akan membahas tema, sejarah, pentingnya, dan tindakan nyata yang dapat kita ambil terkait Hari Gunung Sedunia 2025.
Tema dan Makna Strategis 2025
Tema resmi yang diangkat untuk Hari Gunung Sedunia 2025 adalah “Glaciers matter for water, food and livelihoods in mountains and beyond” (Gletser penting untuk air, pangan, dan kehidupan di pegunungan dan sekitarnya) . Tema ini dipilih secara strategis karena PBB telah menetapkan 2025 sebagai Tahun Internasional Pelestarian Gletser (International Year of Glaciers’ Preservation) .
Pemilihan tema ini ingin menyoroti bahwa gletser adalah jauh lebih dari sekadar bentang alam yang indah. Gletser menyimpan sekitar 70% air tawar dunia dan berfungsi sebagai “menara air” alami yang memasok air untuk minum, irigasi pertanian, dan pembangkit listrik tenaga air bagi miliaran orang . Ancaman terhadap gletser adalah ancaman langsung terhadap ketahanan pangan, air, energi, dan mata pencaharian komunitas, baik di pegunungan maupun di dataran rendah yang bergantung pada aliran sungai dari pegunungan .
Sejarah Singkat Hari Gunung Sedunia
Latar belakang peringatan ini berawal dari kesadaran global yang muncul dalam Konferensi PBB tentang Lingkungan dan Pembangunan (UNCED) di Rio de Janeiro tahun 1992 . Saat itu, Bab 13 Agenda 21 secara khusus menyoroti “Pengelolaan Ekosistem Rapuh: Pembangunan Pegunungan Berkelanjutan” .
Kesadaran ini semakin menguat dan memuncak pada tahun 2002, yang dideklarasikan oleh PBB sebagai Tahun Pegunungan Internasional . Kesuksesan tahun peringatan tersebut mendorong Majelis Umum PBB untuk menetapkan 11 Desember sebagai Hari Gunung Internasional yang diperingati setiap tahun, dimulai sejak tahun 2003 . Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) ditunjuk sebagai lembaga utama yang memimpin dan mengkoordinasi peringatan ini di tingkat global .
Krisis Gletser: Ancaman Nyata dan Dampaknya
![Krisis Gletser Ancaman Nyata dan Dampaknya [ruangkosong.net]](https://logos.ruangkosong.net/wp-content/uploads/2025/12/Krisis-Gletser-Ancaman-Nyata-dan-Dampaknya_ruangkosong.net_.jpg)
Tema 2025 sangat relevan karena dunia sedang menyaksikan percepatan pencairan gletser yang mengkhawatirkan. Lima dari enam tahun terakhir tercatat sebagai periode pencairan gletser tercepat dalam sejarah . Sekitar 600 gletser telah hilang dan lebih banyak lagi yang diprediksi akan menyusul jika suhu global terus naik . Di Indonesia sendiri, kita menyaksikan ancaman kepunahan glasir tropis terakhir di Puncak Jaya, Papua, yang diprediksi akan lenyap antara tahun 2025 hingga 2027 .
Dampak dari hilangnya gletser bersifat multidimensi dan serius:
- Bencana Alam: Pencairan gletser meningkatkan risiko banjir bandang dari danau gletser (Glacial Lake Outburst Floods/GLOFs), tanah longsor, dan erosi yang membahayakan populasi dan infrastruktur di hilir .
- Krisis Air dan Pangan: Lelehan gletser merupakan sumber air utama bagi lebih dari 2 miliar orang . Pengurangan aliran air akan mengancam pertanian dan ketahanan pangan.
- Dampak Budaya dan Ekonomi: Bagi banyak Masyarakat Adat, gletser adalah situs sakral. Hilangnya gletser berarti hilangnya identitas budaya . Sektor ekonomi seperti pariwisata gunung dan tenaga air juga terkena dampaknya .
Apa yang Dapat Kita Lakukan?
Hari Gunung Sedunia adalah seruan untuk bertindak, dan setiap individu dapat berperan:
- Tingkatkan Kesadaran dan Edukasi: Gunakan media sosial untuk menyebarkan informasi tentang pentingnya gletser dan pegunungan dengan tagar #MountainsMatter . Ikuti diskusi, webinar, atau acara daring yang diselenggarakan oleh FAO dan organisasi terkait .
- Adopsi Gaya Hidup Ramah Lingkungan: Kurangi jejak karbon dengan menghemat energi, menggunakan transportasi umum, dan mengurangi konsumsi berlebihan . Tindakan ini membantu memperlambat pemanasan global, akar masalah pencairan gletser.
- Dukung Ekonomi dan Kearifan Lokal: Membeli produk seperti kopi, teh, atau kerajinan tangan yang diproduksi secara berkelanjutan oleh masyarakat pegunungan membantu menjaga kelestarian ekosistem mereka .
- Jadi Wisatawan yang Bertanggung Jawab: Jika mendaki, terapkan prinsip “Leave No Trace”. Bawa pulang semua sampah, hormati jalur yang ditetapkan, dan patuhi semua peraturan yang berlaku untuk meminimalkan gangguan terhadap alam .
- Dukung Kebijakan Pro-Lingkungan: Dukung dan desak pemerintah serta pemangku kebijakan untuk memperkuat komitmen dalam mengurangi emisi gas rumah kaca dan melindungi kawasan pegunungan melalui kebijakan yang konkret .
Hari Gunung Sedunia 2025 bukan sekadar perayaan, tetapi pengingat mendesak bahwa masa depan air bersih, ketahanan pangan, dan stabilitas ekosistem kita bergantung pada tindakan kita hari ini. Melindungi gletser dan pegunungan berarti melindungi fondasi kehidupan miliaran manusia di seluruh planet ini. Mari jadikan momentum ini sebagai awal dari komitmen kolektif untuk menjaga “pasak bumi” ini tetap kokoh untuk generasi yang akan datang .




