Hari Tanah Sedunia 2025: Healthy Soils for Healthy Cities

Pada 5 Desember 2025, dunia akan memperingati Hari Tanah Sedunia dengan tema “Healthy Soils for Healthy Cities”, sebuah seruan global untuk mengakui tanah sehat sebagai fondasi kehidupan perkotaan yang berkelanjutan.

Mengapa 5 Desember Diperingati sebagai Hari Tanah Sedunia?

[ruangkosong.net] Hari Tanah Sedunia (World Soil Day) yang diperingati setiap 5 Desember memiliki sejarah panjang yang dimulai dari rekomendasi International Union of Soil Sciences (IUSS) pada tahun 2002. Namun, tonggak pentingnya terjadi di tahun 2013, ketika Konferensi Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) mendukung usulan ini dengan suara bulat dan meminta pengesahan resmi dari Majelis Umum PBB.

Pada Desember 2013, Majelis Umum PBB merespons dengan menetapkan tanggal 5 Desember sebagai Hari Tanah Sedunia, yang pertama kali dirayakan pada 5 Desember 2014. Pemilihan tanggal ini tidak sembarangan—tanggal 5 Desember dipilih untuk menghormati hari lahir Raja Bhumibol Adulyadej dari Thailand, seorang tokoh pelopor konservasi tanah yang visi dan semangatnya menjadi penggerak utama inisiatif global ini.

Di bawah kerangka kerja Kemitraan Tanah Global (Global Soil Partnership), FAO mendapat mandat untuk memfasilitasi peringatan hari ini sebagai platform peningkatan kesadaran akan pentingnya pengelolaan tanah yang berkelanjutan.

Tema Hari Tanah Sedunia 2025: Healthy Soils for Healthy Cities

GSP WSD25 Social Card Official
foto: UN

Tahun 2025, Hari Tanah Sedunia mengusung tema “Healthy Soils for Healthy Cities” yang bermakna “Tanah Sehat untuk Kota Sehat”.

Tema ini adalah pengingat yang tepat bahwa konsep kesehatan tanah bukan hanya relevan bagi lahan pertanian pedesaan, tetapi juga menjadi fondasi utama bagi kehidupan perkotaan yang berkelanjutan. Tanah yang subur dan terkelola dengan baik di kawasan urban mendukung berbagai fungsi kritis.

Elemen Kunci Tema 2025

Berikut adalah tiga pilar utama yang menopang tema “Healthy Soils for Healthy Cities” dan manfaat yang diberikan oleh tanah sehat di perkotaan.

Tiga pilar utama yang menopang tema Healthy Soils for Healthy Cities dan manfaat yang diberikan oleh tanah sehat di perkotaan

Bentuk Perayaan dan Partisipasi 2025

Di Indonesia, peringatan Hari Tanah Sedunia 2025 akan diwarnai dengan rangkaian kegiatan edukatif dan kreatif yang digelar oleh BRMP Tanah dan Pupuk Kementerian Pertanian bersama Himpunan Ilmu Tanah Indonesia (HITI).

Lomba dan Kompetisi

Sebagai bentuk edukasi kepada masyarakat, diselenggarakan beberapa lomba yang dapat diikuti berbagai kalangan:

  • Lomba Essay dan Vlog: Terbuka untuk pelajar, mahasiswa, dan umum dengan tema “Healthy Soils for Healthy Cities”.
  • Lomba Puisi: Khusus anak TK dan SD kelas 1-3, dengan peserta mengirimkan video pembacaan puisi bertema sama.
  • Lomba Mewarnai dan Menggambar: Dilaksanakan secara langsung di Auditorium Utama Ir. Sadikin Sumintawikarta, Bogor, pada 2 Desember 2025 untuk anak TK dan SD.

Kegiatan seperti ini bukan hanya seremonial. Pada tahun 2024, Soil Judging Contest yang digelar di Bogor berhasil menarik partisipasi 18 tim mahasiswa dari 10 universitas di Indonesia. Kompetisi ini menguji kemampuan identifikasi dan klasifikasi profil tanah, yang menunjukkan bagaimana peringatan ini juga berfungsi untuk meningkatkan kompetensi di bidang ilmu tanah.

Ancaman terhadap Kesehatan Tanah Perkotaan

Meskipun penting, tanah di wilayah perkotaan menghadapi ancaman serius. Degradasi tanah melalui berbagai proses mengancam kemampuan tanah menyediakan jasa ekosistem vital.

  • Salinisasi: Peningkatan kadar garam terlarut di tanah, yang sering terjadi akibat irigasi yang buruk atau intrusi air laut di daerah pesisir. Kondisi ini menurunkan produktivitas pertanian dan kualitas air.
  • Erosi dan Hilangnya Top Soil: Tanpa penutup vegetasi yang memadai, lapisan tanah teratas yang subur mudah tererosi oleh air hujan.
  • Pemadatan Tanah: Akibat pembangunan infrastruktur dan lalu lintas kendaraan yang padat, tanah menjadi padat sehingga mengurangi porositas dan kapasitas infiltrasi air.
  • Kontaminasi: Akumulasi limbah, bahan kimia, dan polutan lainnya dapat meracuni tanah dan organisme di dalamnya.

Jika tidak ditangani, degradasi tanah ini akan memperparah tantangan perkotaan seperti banjir, kekurangan pangan lokal, dan efek pulau panas.

Dari Kesadaran Menuju Aksi: Peran Kita

Memahami pentingnya tanah sehat harus diikuti dengan tindakan nyata. Berikut langkah yang dapat diambil berbagai pihak:

Masyarakat Umum dapat:

  • Mengurangi penggunaan pestisida dan pupuk kimia di kebun atau tanaman hias.
  • Membuat kompos dari sampah organik rumah tangga untuk memperbaiki struktur tanah.
  • Mendukung pertanian perkotaan dan pertanian organik.

Pemerintah dan Pembuat Kebijakan perlu:

  • Mengintegrasikan kesehatan tanah dalam perencanaan tata kota.
  • Memberikan insentif bagi praktik pertanian berkelanjutan di wilayah urban.
  • Memperkuat regulasi untuk mencegah pencemaran dan degradasi tanah.

Kemitraan Kolaboratif antara pemerintah, swasta, akademisi, dan masyarakat sipil penting untuk mengembangkan solusi inovatif dan memastikan keberlanjutan upaya konservasi tanah.

Melihat ke Depan: Masa Depan Tanah dan Kota Kita

Hari Tanah Sedunia 2025 mengajak kita untuk mengubah cara pandang terhadap tanah—tidak sekadar sebagai lahan yang menopang bangunan, tetapi sebagai sistem hidup yang dinamis yang menentukan kualitas kehidupan di perkotaan.

Melalui tema “Healthy Soils for Healthy Cities”, kita diingatkan bahwa setiap keputusan tentang penggunaan lahan, sistem drainase, penutup vegetasi, dan pengelolaan sampah memiliki konsekuensi langsung terhadap kesehatan tanah dan, pada akhirnya, kesehatan warga kota itu sendiri.

Pada 5 Desember 2025, mari jadikan peringatan ini bukan hanya seremonial, tetapi titik awal komitmen kolektif untuk melindungi, merestorasi, dan mengelola tanah perkotaan secara bijaksana. Masa depan kota yang tangguh, hijau, dan sehat dimulai dari tanah di bawah kaki kita.

Leave a Reply